Minggu, 02 Februari 2014

Ketika Air Marah

-

Muhammad Machrush Cania Putra. (Foto: dok. pribadi)Muhammad Machrush Cania Putra. (Foto: dok. pribadi)
DIdunia ini hanya ada dua tipe zat, yaitu pencipta dan yang diciptakan. Tuhan adalah Sang Pencipta dan selain itu adalah makhluk ciptaan-Nya. Manusia adalah salah satu makhluk dari ciptaan tuhan yang hidup di dunia ini. Kita perlu ingat bahwa ciptaan tuhan bukanlah manusia saja. Mungkin sedari kecil kita telah diperdengarkan pelajaran terkait ciptaan tuhan seperti pada penggalan lirik dari lagu anak-anak berjudul “Pelangi” yaitu, “Pelangi-pelangi, ciptaan tuhan.” Hal tersebut menandakan perlunya kita menyadari bahwa di dunia ini makhluk tuhan bukanlah hanya manusia juga terdapat hewan tumbuhan. Makhluk ciptaan tuhan juga termasuk benda-benda yang tidak dapat kita definisikan sebagai makhluk hidup seperti gunung, langit, api, air dan sebagainya.
Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang memiliki tugas sebagai pengelola bumi. Sebagai makhluk yang memiliki akal dan pikiran, sungguh ironis ketika melihat ternyata sang pengelola ini tidak menjalankan tugasnya dengan baik; malah fokus pada kepentingan pribadi. Manusia perlu membuka mata terkait hak-hak makhluk lain, seperti air. Pada dasarnya mereka adalah makhluk yang ditakdirkan untuk mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Lalu mengapa manusia heran ketika air menjadi “marah” lantaran manusia mendiami tempat air seharusnya berada? Apakah karena manusia bisa berbicara sehingga bisa menyalahkan air pada sesama dan tuhannya.

Ibu kota merupakan suatu sistem yang sangat kompleks. Telinganya sudah terlalu sempit untuk merasa. Suatu tindakan merupakan cara terbaik untuk mendapat perhatiannya, untuk protes dan berbicara juga mendukung manusia yang peka terhadap hidup dan lingkungan. Alangkah indahnya bila air dan manusia bisa saling toleransi dan bermanfaat dalam batas-batas yang tepat. Mungkin dengan memberikan jalan yang cukup di kala air hendak lewat mencapai tempat tujuan (lautan) tanpa blokade sampah-sampah sehingga air tidak perlu mencari jalan lain untuk pulang.

Muhammad Machrush Cania Putra
Mahasiswa Departemen Agribisnis
Institut Pertanian Bogor (IPB)

Sabtu, 14 September 2013

Kok Tidak Ada Perpeloncoan?

Citra ospek sangat kuat dengan asas senioritas dan kegiatan pembentukan mental dengan tekanan.
 
ALHAMDULILLAH, sekarang saya telah menjadi mahasiswa Agribisnis di Institut Pertanian Bogor (IPB), setelah menjalani prasyarat selama kurang lebih dua belas tahun di SD, SMP dan SMA. Senang rasanya menjajaki dunia baru dalam atmosfer perkuliahan, yang katanya tempat lahir kaum intelektual. Sejenak terlintas akan bahagianya kehidupan itu dalam keberagaman dan kebebasan berpikir dan berekspresi.
 
Pada awal masuk universitas, pastilah ada masa perkenalan antara mahasiswa baru dengan lingkungannya. Saya sempat bingung dan pesimistis melihat informasi dari berbagai sumber yang memberitakan kekejaman saat masa ospek. Mulai dari mengenakan baju yang aneh-aneh, rambut diikat sana-sini, melakukan hal-hal di luar nalar pelajar demi tujuan-tujuan kekompakan, penghormatan, dan saling menghargai.
 
Di IPB juga ada masa orientasi mahasiswa baru yang dikenal dengan istilah Masa Perkenalan Mahasiswa Baru (MPKMB). Serupa tapi tak sama terjadi di sana. MPKMB bukanlah perpeloncoan belaka, namun kegiatan yang sangat menjunjung nilai-nilai kebaikan yang diekspresikan dengan tidak berlebihan. Kami pun dapat berpikir lebih dewasa lagi usai masa perkenalan ini
 
Bukan pakaian dan kegiatan aneh yang kami lakukan di MPKMB, melainkan kegiatan positif yang mengajarkan disiplin dan kreatif serta bersifat membangun kesadaran diri akan kemandirian dan tanggung jawab. Barang-barang yang harus dibawa pun adalah barang-barang yang kita butuhkan untuk mengikuti agenda ini dengan lancar. Misalnya membawa payung karena Bogor adalah Kota Hujan atau menggunakan name tag agar sesama peserta dapat saling kenal, dsb.
 
Jadi, sekarang memanglah sistem yang digunakan di berbagai universitas sudah tidak lagi berlebihan. Semuanya dibuat cukup, tidak ada maki-memaki dari senior yang berlebihan. Kegiatan ospek pun benar-benar mengenalkan lingkungan di kampus tersebut. Dan akhirnya aku pun bertanya sendiri,”Kok tidak ada perpeloncoan?”
 
Muhammad Machrush Cania PutraMahasiswa Departemen Agribisnis
Institut Pertanian Bogor (IPB)
(//rfa) 


salah satu situs yang memuat tulisan ku :

http://kampus.okezone.com/read/2013/09/09/367/862834/kok-tidak-ada-perpeloncoan

Senin, 01 Juli 2013

Milih Jurusan Sesuai Cita-Cita


SEMENJAK kita kecil, kita selalu disibukkan dengan berbagai pertanyaan tentang cita-cita. Menjadi seorang dokter, guru, dan polisi adalah kata-kata yang tidak pernah absen dalam pendidikan usia dini di negeri kita tercinta ini.

Lalu, apakah sebuah cita-cita hanya akan menjadi sebuah kata untuk menjawab pertanyaan orangtua, guru, atau teman tentang menjadi apa kita nantinya atau kah memang benar suatu hal yang ingin kita capai selanjutnya dalam kehidupan ini.

Kini saatnya teman-teman semua membuka kembali sebuah mimpi yang sebenarnya akan kita capai dan nasib yang akan kita jalani nanti. Saatnya teman-teman mengambil satu langkah ke depan untuk menentukan sejarah yang akan tercipta dari semua mimpi-mimpi yang kita inginkan semenjak dahulu saat mimpi itu muncul dengan berbagai kebaikan yang akan terjadi akibatnya.

Hidup adalah pilihan. Banyak orang yang berkata akan sebuah kenyataan yang pahit dan seolah-olah memang nasib pahit itu lah yang bisa kita dapatkan karena beberapa kesalahan kecil yang kita buat atau kemampuan yang belum muncul dan akhirnya merendahkan cita-cita kita.

Apakah karena kita memiliki nilai yang tidak begitu tinggi sehingga cita-cita kita ganti dengan sesuatu hal yang sebenarnya tidak kita inginkan demi sebuah pendidikan yang belum tentu kita inginkan atau biasa disebut dengan "menjalani nasib" dan sadar akan kemampuan.

Ini kita, ini hidup kita, nasib kita lah yang mengusahakan dan Tuhan lah yang berhak menentukan karena pilihan hanya perlu konsekuensi untuk dijalani.

salah satu situs yang menayangkan tulisan ane :
http://kampus.okezone.com/read/2013/06/19/367/824600/redirect

Persiapkan Faktor "X"

detail 
Muhammad Machrush Cania Putra. (Foto: dok. pribadi) 

TINGGAL hitungan hari, ujian nasional (UN) akan segera dilaksanakan. Seluruh siswa menyambutnya dengan penuh antusiasme dan harapan karena bisa jadi ini adalah salah satu pintu menuju kehidupan dunia nyata yang penuh dengan tantangan dan kenyataan. Banyak persiapan yang selalu dilakukan seperti belajar intensif hingga aktif mengikuti  bimbingan belajar (bimbel) untuk mempersiapkan semua itu. Gelar siswa pun tidak terasa sudah di ambang batas.
UN merupakan ujian formal yang bertujuan untuk menguji ilmu kita sebagai siswa selama tiga tahun belajar di sekolah. Sehingga, seharusnya kita tidak perlu khawatir lagi akan agenda tahunan ini. Kita dapat lebih bersantai menikmati suasana sekolah yang sebentar lagi akan ditinggalkan, lebih banyak bercengkrama dengan perangkat-perangkat sekolah ataupun sekedar bergurau dengan teman-teman.

Adalah hal biasa dalam menghadapi UN jika kita berjuang keras dan melakukan persiapan yang luar biasa dahsyat. Termasuk juga menjaga kondisi tubuh agar terhindar dari gejala stres dan ketakutan yang berlebihan.

Pada prinsipnya yang harus dipersiapkan adalah faktor “x”. Seringkali kegagalan terjadi dari kesalahan-kesalahan kecil di luar dugaan kita seperti alat tulis, transportasi, dan manajemen waktu. Bayangkan saja bila nanti saat ujian kita terlupa untuk membawa alat tulis atau alat tulis yang kita bawa rusak, kita akan membuang waktu untuk mencari alat baru yang dapat mendukung. Lalu bayangkan pula bila saatnya tiba ternyata kita terlambat karena sedang terjadi kemacetan panjang dan akhirnya tidak dapat mengikuti ujian. Manajemen waktu juga sangat penting saat keadaan seperti ini, untuk mengulang materi ujian perlulah waktu yang cukup saja, jangan dipaksakan dan berlebihan karena dapat membuat kita bangun terlambat. Selain itu, pengulangan materi tadi pun jadi sia-sia.

Oleh karenanya persiapan faktor-faktor lain di luar pelajaran sangatlah penting. Walaupun kecil, namun yang kecil tersebut dapat menentukan kesusesan ataupun kegagalan konyol yang mungkin akan disesali hingga akhir hayat kita.

http://kampus.okezone.com/read/2013/04/13/367/790920/persiapkan-faktor-x
 

Jumat, 12 April 2013

Perubahan Warna Langit Ketika Waktu Sholat Tiba



. Waktu Sholat Subuh

Jika kita sering memperhatikan waktu selepas shubuh, apalagi menjelang siang, langit seringkali berwarna biru yang diselingi dengan merah (oranye) yang dihasilkan oleh sinar mentari yang akan terbit.

Dalam Islam, tidur setelah shubuh sangat dilarang karena akan ketinggalan rezeki. Seperti Sabda Rasulullah : “Ya Allah berikanlah berkah kepada umatku di pagi harinya,” (HR. Abu Dawud no. 2606, Tirmidzi no. 1212, Ibnu Majah no. 2236, shahih At-Targhiib waTarhiib no, 1693)

Selain itu, mengapa kita tidak dibenarkan tidur selepas subuh adalah karana warna biru mempertenagakan kelenjar tyroid. Bila kelenjar tyroid kita lemah, kita akan mengalami masalah kehausan sepanjang hari.

Pada waktu shubuh, alam berada dalam spectrum warna biru muda yang bersamaan dengan frekuensi tiroid yang mempengaruhi sistem metabolisma tubuh.

Jadi warna biru muda atau waktu shubuh mempunyai rahasia yang berkaitan dengan rezeki dan komunikasi.

Mereka yang kerap tertinggal waktu shubuhnya ataupun terlewat secara berulang-ulang kali, lama-kelamaan akan menghadapi masalah komunikasi dan rezeki. Ini karena tenaga alam yaitu biru muda tidak dapat diserap oleh tiroid yang mesti berlaku dalam keadaan roh dan jasad dalam keadaan tidur dalam arti kata lain lebih baik terjaga daripada tidur. Di sini juga dapat kita ambil hikmah untuk solat di awal waktu.

Bermulanya saat azan shubuh, tenaga alam pada waktu itu berada pada tahap optimum. Tenaga inilah yang akan diserap oleh tubuh melalui konsep resonansi pada waktu rukuk dan sujud. Jadi mereka yang terlewat shubuh sebenarnya sudah mendapat tenaga yang tidak optimum lagi.

2. Waktu Sholat Dzuhur

Ketika ini warna kuning mendominasi atmosfera. Mengurangi makan pada waktu kuning (siang hari) ialah amalan terbaik untuk menjaga supaya pemikiran menjadi kreatif, tajam, dan peka. Ini mengapa kita amat digalakkan untuk melakukan puasa sunah Senin dan Kamis untuk menggurangi beban kerja organ pencernaan.

Spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi perut dan hati yang berkaitan dengan sistem pencernaan. Warna kuning ini mempunyai rahasia yang berkaitan dengan keceriaan. Jadi mereka yang selalu ketinggalan atau terlewat Zuhurnya berulang- ulang kali dalam hidupnya akan menghadapi masalah di perut dan hilang sifat cerianya.

3. Waktu Sholat Ashar

Kemudian warna alam akan berubah kepada warna oranye, yaitu masuknya waktu Ashar di mana spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi prostat, uterus, ovarium dan testis yang merangkumi sistem reproduktif.

Rahasia warna orange ialah kreativitas. Orang yang kerap tertinggal Asar akan hilang daya kreativitasnya dan lebih malang lagi kalau di waktu Asar dipakai buat tidur.

4. Waktu Sholat Magrib

Menjelang waktu Maghrib, alam berubah ke warna merah dan di waktu ini kita kerap dinasihatkan oleh orang-orang tua agar tidak berada di luar rumah. Ini karena spektrum warna pada waktu ini menghampiri frekuensi jin dan iblis (infra-red) dan ini bermakna jin dan iblis pada waktu ini amat bertenaga kerana mereka beresonansi dengan alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan juga sebaiknya berhenti dahulu pada waktu ini alias menjalankan sholat Maghrib dulu.

Rahasia waktu Maghrib atau warna merah ialah keyakinan, frekuensi otot, saraf dan tulang.

Tahukah Anda bahwa warna merah yang dipancarkan oleh alam ketika itu mempunyai resonansi yang sama dengan jin dan syaitan. Kita lebih baik untuk berada di dalam rumah pada waktu magrib ini.

5. Waktu Sholat Isya

Apabila masuk waktu Isya, alam berubah ke warna merah dan seterusnya memasuki fasa kegelapan. Waktu Isya ini menyimpan rahasia ketenteraman dan kedamaian dimana frekuensinya bersamaan dengan sistem kawalan otak.

Mereka yang kerap ketinggalan Isyanya akan selalu berada dalam kegelisahan. Alam sekarang berada dalam kegelapan dan sebetulnya, inilah waktu tidur dalam Islam dimana keseluruhan sistem tubuh berada dalam keadaan relaks atau istirahat. Allohu alam bi shawwab.

-Neo Helmy Latief-

sumber :http://www.islamind.com/2013/01/perubahan-warna-langit-ketika-waktu.html