Jumat, 12 April 2013

Solehah




Pantulan bayangan ku menghalangi pandangan ini
Menahanku menikmati pohon kelapa itu
Di depan jendela aku berdiri
Melihat ia menari bergoyang terhembus angin lalu

Wahai nona siapa nona?
Paras indan berselimut kain
Menelan semua ombak dunia yang fana
Luna maya apakah mungkin

Dia biru aku yang hitam
Mulai subuh hingga tenggelam
Aku malu akulah hitam
Mengecat cepat buruk kelam hitam yang mengecam


Selasa, 19 Maret 2013

postingan online pertama media :)


wkwkwkwkwk...
http://kampus.okezone.com/read/2013/03/16/367/776883/ketenangan-dalam-keperihan-akhir-bulanhttp://kampus.okezone.com/read/2013/03/16/367/776883/ketenangan-dalam-keperihan-akhir-bulan

Ketenangan dalam Keperihan Akhir Bulan

Minggu, 17 Maret 2013 11:48 wib
-
Muhammad Machrush Cania Putra. (Foto: dok. pribadi) Muhammad Machrush Cania Putra. (Foto: dok. pribadi)
HIDUP di dunia memang sebentar saja, ada akhirat di seberang sana. Tak perlu kau meragu dan berpikir, cukup jalani dengan keyakinan.
Menjadi mahasiswa merupakan pilihan yang berat. Belajar dan berprestasi merupakan agenda wajib yang selalu diusahakan. Dengan memilih menjadi mahasiswa, kita telah meninggalkan kesempatan-kesempatan berharga seperti bekerja dan sebagainya. Akibatnya, kita pun tidak berpenghasilan. Jadi alangkah ruginya bila pilihan sebagai mahasiswa ini tidak kita maksimalkan.

Sebagai mahasiswa yang tidak bekerja, pastilah kita menggantungkan diri pada kiriman dari orangtua maupun penyokong lainnya, seperti beasiswa. Baik kiriman uang maupun beasiswa biasanya diberikan saat awal bulan. Rutinitas ini mengakibatkan sindrom galau di akhir bulan, ketika ketebalan dompet sudah tidak bisa mengganjal kebutuhan dan keinginan yang begitu tidak terbatas. Biasanya ditandai dengan mulainya menghindari kafe dan beralih pada warung kopi.

Berbagai solusi seperti meminjam uang ke sana ke mari dan meminta uang tambahan atau sekedar meminta percepatan kiriman dengan berbagai alasan yang meyakinkan adalah agenda wajib sebagian mahasiswa. Ya, mungkin dengan mengambil moto “gali lubang tutup lubang” keuangan dirasa tidak masalah bagi beberapa mahasiswa. Padahal, moto ini pada sebagian mahasiswa sering kali menjadi cara yang sangat menyesatkan. Terlebih ketika ternyata lubang yang kita gali terlalu dalam dan tak cukup dana untuk menutup lubang sebelumnya. Kondisi inilah yang biasanya memicu keterampilan negosiasi mahasiswa terutama dalam membayar utang dan kos atau kontrakan rumah.

Pada prinsipnya ketenangan adalah kunci utama dalam menghadapi masalah. Dengan ketenangan kita dapat selalu berpikir positif tentang semua permasalahan yang timbul. Jika tenang, maka kita akan siap berargumen saat keadaan mendesak (saat penagihan untuk pembayaran kos dan utang), lebih rajin beribadah (mengharap rezeki), menjadi soleh dengan mengimbau untuk senantiasa bersedekah, dan banyak hal lainnya. Melaksanakan unsur-unsur ibadah seperti menjaga silaturahim juga bisa menjadi salah satu solusi. Mungkin dari kunjungan kita ke kerabat, kita bisa mendapat proyek bisnis, tambahan ide, kesenangan dan bahkan sekadar jamuan makan siang. Hal tersebut dapat terjadi karena kita akan mengingat kembali bahwa setiap makhluk hidup memiliki jatah rezekinya masing-masing yang dijamin sendiri oleh Tuhan. Lihat saja orangtua burung yang tidak sekolah ataupun bekerja di kantor dan menerima gaji masih tetap bisa bertahan hidup. Mereka selalu membawa makanan di sore hari untuk anak-anaknya di sarang. Jadi dengan ketenangan, segala masalah akan terasa mudah dan selalu dapat diatasi.

Ketenangan dalam menghadapi akhir bulan ditambah dengan kerja keras akan menghasilkan kesempatan besar. Karena dengan kesulitan kita akan berpikir dan dengan kerja keras hasil pemikiran akan tercapai.

situs yang rela nge-post :
http://kampus.okezone.com/read/2013/03/16/367/776883/redirect

Sabtu, 16 Maret 2013

FITRI JATI

ketika itu kakiku beku

terperanga dalam kesan mendalam itu

kekuatan itu takan palsu

fitri indah tak meragu

mengapa keras jati ini

padahal fitri tak menanti

lama waktu beruraian terkunci dalam lemari

dengan kelembutan berselimutkan suci

pohon itu jati suci bertengger depan jendela

melampaui batas indah tak terduga

teman fuji di samping pintu kamarnya

fitri jati itulah kiranya

pengarang : M. Machrush Cania P.

Kamis, 14 Februari 2013

Rangkaian Besi tak Bisa Berenang


Jakarta merupakan Ibu Kota dari negeri kita Indonesia yang merupakan sebuah model kebudayaan modern yang di kenal di Indonesia
Sebanyak 9.607.787 jiwa warga Ibu Kota berdasarkan data dari BPS hasil sensus 2010 kini selalu di hantui rasa khawatir karena curah hujan di dataran tinggi mengakibatkan penumpukan volume Air di  dataran rendah, layaknya hujan yang begitu kencang mendarat karena pengaruh dari gaya gravitasi  membuktikan bahwa ada kekuatan alamiah yang tidak bisa kita control dengan mudah
Sejak intensitas hujan di daerah hulu tinggi, intensitas air yang dibawa ke hilir juga tinggi, bersatu dan menjadi suatu kesatuan air dengan volume yang luar biasa sehingga menghancurkan tanggul dan membiarkan air berkunjung ke tempat manusia beraktifitas
Text Box: Banjir di Jalan Thamrin (foto: Heru Haryono/Okezone)

Hal ini menyebabkan matinya aktifitas di titik tersebut karena untuk bepergian pun harus menggunakan perahu atau semacamnya
Pada awalnya banyak masyarakat yang terus memaksakan kendaraannya melaju menerjang banjir yang tingginya rata-rata diatas 60 cm. Mungkin karena desakan waktu, kebutuhan dan pertimbangan lainnya mereka memaksakan diri . Akibatnya akan terjadi kerusakan pada mesin, yaitu ketika air banjir tersebut merembes pada mesin, pengapian tidak akan terjadi dengan baik dan akhirnya mati.Walaupun mesin di disain untuk dapat tahan air tetap saja air dapat tetap masuk dari berbagai celah yang sangat sempit. Hal yang dapat kita lakukan adalah mencabut businya dan membersihkan air tersebut dengan menyemprotkan angin berkecepatan tinggi
Air banjir yang mengakibatkan pengguna jalan tidak dapat melihat permukaan jalan sangat membahayakan karea dapat membuat pengendara motor kehilangan keseimbangan.
Banjir membawa berbagai sampah dan sebagainya menyebar ke berbagai sudut banjir termasuk berbagai benda tajam yang dapat melukai kaki dan  membocorkan ban kendaraan  dan mengharuskan pengendaranya mendorong kendaraannya menerjang banjir .
Andaikan rangkaian besi ini dapat berenang mungkin banjir tidak akan menjadi penghalang bagi masyarakat berpindah tempat dan mendistribusikan berbagai kebutuhan sehingga tidak perlulah menggunakan alat-alat berbiaya operasional tinggi untuk mendapatkan bahan bantuan

Redenominasi ? Tidak Perlu Khawatir


Menghadapi tahun baru 2013 ini Indonesia menetapkan kebijakan yang cukup membuat dedas-desus di berbagai kalangan terutama dikalangan konsumen.
Redenominasi rupiah adalah penyederhanaan nilai dengan menghilangkan tiga angka nol pada mata uang rupiah tanpa mengurangi nilai didalamnya. Uang Rp 1.000 nantinya akan disederhanakan menjadi Rp 1 saja yang tentunya memiliki peluang  untung-rugi yang banyak di khawatirkan.
Dalam menyikapi hal tersebut masyarakat mengeluhkan akan timbulnya pembulatan-pembulatan, seperti barang yang kini bernilai Rp 4.500.000 maka dengan adanya redenominasi menjadi Rp 4.500  sehingga akan memicu pedagang menaikan harga menjadi Rp 5.000, artinya walau pun hanya berbeda Rp 500 namun nilai yang sebenarnya pedagang dapatkan adalah Rp 500.000.
Namun Mentri Keuangan memaparkan bahwa untuk menghindari hal seperti ini, Pemerintah akan menetapkan masa sosialisasi dan konsultasi yang akan dimulai dari Bulan Januari hingga Bulan Mei agar  hal yang ditakutkan tadi tidak terjadi. Pada masa tersebut akan dilakukan penyesuaian seperti adanya dualisme harga, ada yang menggunakan harga lama dan harga baru. Harga lama maksudnya adalah harga sebelum disederhanakan dengan memotong tiga angka nol dibelakang, misalnya harga mie instan kini adalah Rp 1.500 dan harga baru adalah harga setelah disederhanakan dengan memotong tiga angka nol dibelakang, sehingga harga mie instan menjadi Rp 1,5.